Jumat 15 Mei 2020, Pemerintah Kota Bontang berpartisipasi dalam sebuah diskusi online yang diselenggarakan oleh United Cities and Local Goverments Asia Pacifics (UCLG ASPAC). Diskusi berbasis daring ini mengangkat topik “Peluang Ekonomi Digital di Tingkat Daerah Dalam Kondisi Pandemi COVID-19”. Dalam kesempatan tersebut Walikota Bontang Neni Moerniaeni menjelaskan upaya pemerintah kota, dalam upaya memanfaatkan peluang teknologi informasi.

“Kita berupaya bagaimana Kota Bontang selepas migas, tetap hidup dan tidak menjadi kota mati.” Ucap Neni dalam diskusi online yang berlangsung.

Seperti yang kita ketahui, selama ini Bontang dikenal karena suburnya industri migas yang berkembang di kota taman. Industri migas memanfaatkan energi tak terbaharukan, sehingga keberlangsungannya pun tidak dapat dipastikan. Ditambah dengan merebaknya Covid-19, membuat pendapatan migas menurun. Tidak hanya itu, sektor wisata yang tengah digalakan oleh pemerintahpun ikut terhambat akibat Covid-19. Namun demikian, sejak lama Bontang sudah mempersiapkan pasca migas dengan menghadirkan CPO yang memproduksi minyak sawit, sebagai industri hilir nantinya.

Selain ditengah terpukulnya ekonomi akibat pandemi, Pemerintah Kota Bontang turut hadir untuk memberi dan memberdayakan masyarakat. Sudah satu bulan lebih Bontang menerapkan Work From Home (WFH) dilingkungan pemerintah khususnya. Dan selama itu pula banyak warga yang pendapatannya terjun bebas, hingga kehilangan pekerjaan. 60% dari 15.000  UMKM yang terdaftar juga terkena dampak imbas dari corona. Melalui Dinas Sosial setempat, pemerintah lalu menyalurkan bantuan sembako kepada 14.000 kepala keluarga. Dan untuk mendukung UMKM yang ada, pemerintah  juga menyertakan berbagai macam poduk lokal produksi masyarakat.

📷 Prokompim Bontang
✍ Rose/Kominfo